Dulu memang dia adalah seorang aktivis dakwah kampus kawakan. Prestasi dakwahnya gemilang secara kuantitatif. Menang pemilu di kampus, target rekruitmen yang terlampui, banyaknya kelompok yang dibina, bahkan jenjang kaderisasi yang melompat dengan cepatnya. Pagi, siang, sore, dan malam, semua serasa habis untuk bergilirnya deru gelombang itu. Manis, romantis, heroik, aahh kata-kata apalagi yang mampu menggambarkan manisnya perjuangan. Tapi itu dulu. Saat masih sekolah, saat masih kuliah.
Zaman pun telah berganti, riak riak gelombang hanya fatamorgana. Sekarang, saat dia telah lepas dari lingkar tarbiyah di kampusnya, entah kenapa dia begitu berat bergabung lagi dengan komunitas yang membesarkan dia dan dia pun pernah ikut membesarkan gulungan gelombang itu. Memang dia masih fasih bercerita tentang masa lalunya bersama gelombang ini. Tapi, masa lalu yang indah bersama ikhwah, bukanlah sesuatu yang pantas direnungi dengan ujub, lalu dibicarakan dan dibanggakan, lantas mencukupkan diri dengan itu. Di mana semangatnya yang dulu? Di mana opini-opininya yang tajam itu? Mungkinkah berpindah ke lain hati ? dalam khusnuzdan ku pada mu..... Aku selalu menanti mu...
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta
Gelombang ini tidak selesai di kampus kawan. Kembalilah pada tarbiyah, kembalilah pada asholahnya. Hadirkan kembali taman-taman surga itu, dan nikmati lagi kepakan kepakan sayap itu, hingga sayap itu menyentuh syurga Nya kelak.....
Kampus Perjuangan, Januari 2011
