02 Februari 2011

Tentang Namamu, Gaza

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.

Wahai Anakku, Gaza.

Pagi ini Ummi kembali tersenyum dan terharu, ketika mendapati jawaban yg keluar dari mulut mungilmu nak. Usiamu sudah 16 bulan lebih, dan dua minggu terakhir ini, ketika beberapa pertanyaan Ummi lontarkan padamu? Jawaban lantang keluar dari mulut mungilmu “AJA” (GAZA).

Ketika Ummi bertanya, “Ini namanya siapa?”(sambil menyentuh dadamu), Kau lantang menjawab “AJA”.(GAZA)

Ketika Ummi bertanya, “Siapa yang membereskan mainan?” Kau lantang menjawab “AJA”.(GAZA)

“Siapa yang anak shalih?” Kau kembali lantang menjawab “AJA”(GAZA).

Kau sudah bisa menyebutkan namamu nak (dengan bahasamu sendiri), selalu dengan lantangnya.

Tahukah engkau nak, tak sedikit orang yang bertanya mengapa Ummi dan Abimu ini memberimu nama Gaza. Bagi Ummi dan Abimu, namamu mencerminkan banyak hal nak, Bukan sekedar gagah-gagahan, sekedar ingin terkesan berbeda atau malah ikut-ikutan. (Ya Allah jauhkan kami dari sifat itu). Selain itu Ummi dan Abi ingin membiasakan agar orang-orang disekitarmu terbiasa mendengar kata GAZA, mengenal GAZA dan kemudian tergerak untuk peduli pada GAZA.

Gaza anakku, hingga saat ummi menuliskan ini, Ummi memang belum pernah menginjakan kaki di kota Gaza tapi sungguh Ummi bisa merasakan penderitaan mereka, kegigihan dan perjuangan mereka, ketabahan dan kesabaran mereka. Ummi banyak membaca, mendengar, melihat kisah mereka nak. Meski mungkin yang Ummi tahu belum seberapa.

Ummi malu nak, malu karena mendapati bahwa Ummi belum bisa berbuat banyak untuk mereka. Harta yang Ummi salurkan kesana, mungkin hanya seujung kuku dibanding dengan harta yang Ummi habiskan untuk nafsu dunia.

Bila ada yang bertanya, “Maukah Ummi pergi (berjihad) ke jalur Gaza? “. Sungguh Ummi ingin nak, tapi beribu pertanyaan Ummi lontarkan kembali ke diri Ummi yang dhaif ini.

“Apa yang Ummi bisa, apa yang Ummi mampu lakukan bila Allah mengizinkan Ummi berada disana (Gaza)?”. Bisakah Ummi mengobati mereka (yang terluka di Gaza), sementara ilmu tentang kesehatan yang Ummi miliki belum seberapa?, atau bisakah menjadi engineer yang membantu warga Gaza membangun kembali rumahnya, atau membangun rumah sakit disana. Bisakah menjadi relawan kemanusiaan yang berani menghadang buldozer seperti Rachel? Bahkan terkadang menegur orang merokok di angkot, Ummi musti mengumpulkan banyak nyali. Atau bisakah Ummi menjadi ibu susu bagi bayi-bayi Gaza yang kehilangan ibunya?. Apa… apa.. yang sekiranya Ummi bisa bawa jika Allah mengizinkan Ummi kesana? atau justru ketika Ummi kesana, Ummi akan banyak merepotkan orang lain. Astaghfirullaahal’azhiim…

Ummi tertunduk nak, diri ini penuh kelemahan. Mungkin karena itu Ummi belum diizinkan untuk berada disana, membantu saudara-saudaramu. Lalu apa sekiranya yang Ummi mampu lakukan dari sini? Ummi kembali tertunduk nak, sungguh belum banyak yang bisa Ummi lakukan untuk saudaramu disana.

Gaza Anakku. Jika Allah berkehendak memberimu dan Ummi umur panjang. Sebentar lagi ketika engkau telah mengerti apa dan mengapa. Ummi akan ceritakan padamu tentang kisah perjuangan saudara-saudaramu di negeri anbiya. Tentang ketabahan mereka, kesabaran mereka menghadapi cobaan bertubi-tubi. Tentang kegigihan mereka mempertahankan harga dirinya sebagai seorang muslim. Tentang semangat mereka yang tak pernah padam walau sebagian saudara saudara muslim mereka di penjuru dunia melupakan mereka, karena syahid dan kemuliaan adalah bara yang takkan pernah padam, bara yang selalu menyala di langit GAZA, bara yang meletupkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dan Ummi berharap bara yang sama InsyaA llah akan selalu menyala di dadamu Anakku. Tak ada dan tak pernah terlintas kata menyerah pada musuh-musuh Allah.

Lihatlah nak, tampaknya kita akan butuh banyak malam untuk menceritakan kisah para pejuang-pejuang Allah itu.

Di sana nak, di kota yang dipilih Allah, tak ditemui anak kecil yang meminta-minta. Meski segala keterbatasan menghimpit mereka anakku. Di kota itu nak, penduduknya tak pernah mencari kambing hitam atas keadaan yang menimpa mereka. Mereka tak pernah menyalahkan para prajuritnya (HAMAS), atas apa yang terjadi pada mereka. Karena mereka tahu nak, prajurit-prajurit itu berjuang demi mereka. Demi kemerdekaan yang sudah dijanjikan Allah.

Sekali lagi tentang janji Allah yang perlu kau teladani dari mereka, nak. Meski Allah menjanjikan kemenangan bagi mereka, namun itu tidak menjadi alasan bagi mereka untuk berleha-leha. Mereka terus dan terus berjuang demi kemerdekaan mereka.

Lihatlah sebayamu disana, yang tak memiliki tanah lapang untuk bermain bola. Playground mereka adalah puing-puing peperangan. Hiburan mereka adalah lemparan batu yang mengenai tank-tank zionis. Pandailah bersyukur dan jangan terlena pada apa-apa yang kau miliki, anakku. Karena di sana, di kota yang terpilih itu, mereka tak memiliki kesempatan sepertimu.

Gaza Anakku… Tumbuhlah menjadi anak shalih, cerdas dan sehat. Ummi tak menuntutmu menjadi seseorang yang bukan dirimu nak, tapi bekalilah dirimu dengan kemampuan, dengan azzam dan hati yang jernih. Teladanilah mereka nak, saudara-saudaramu di kota perjuangan. Refleksikan semangat mereka dalam kehidupanmu nak, milikilah ‘izzah seorang muslim seperti mereka anakku. Tempa dirimu hingga menjadi muslim yang penuh manfaat untuk sesama.

Gaza Anakku… Sekiranya ketika engkau sudah tumbuh menjadi dewasa dan Allah masih mentakdirkan bumi para anbiya itu, tanah jihad nan mulia itu belum meraih kemuliaannya, Ummi dan Abi akan selalu berdoa kepada Allah supaya engkau adalah salah satu pejuang yang kan membela kemuliaan Al Aqsha. Sehingga suatu saat nanti ketika engkau hendak menginjakkan kakimu di tanah jihad yang Ummi dan Abi sematkan namanya di namamu GAZA, mudah mudahan Ummi dan Abi ikhlas mengizinkanmu.

Teruntuk anakku,
Muhammad Gaza El Rahman
Sang Tanah Jihad yang mengobarkan semangat kemuliaan, Hamba Sang Rahman.
Awal Juni 2010

Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.

 
;