saudaraku…
sudahkah kita pernah disakiti di jalan Allah…
disakiti oleh objek dakwah kita
dengan acuh tak acuh misalnya, akan setiap seruan yang kita lakukan
ta’lim yang datang sedikit
sebutan teroris untuk sebuah lembaga dakwah legal formal
disakiti oleh saudara seperjuangan kita
dengan komunikasi yang buruk
wajah yang tidak senang
SMS yang menuntut lagi menusuk
Proker yang dilaksanakan (menurut kita) dengan asal-asalan
sudahkah kita pernah disakiti??
lalu mari saudaraku,
kita coba bayangkan kita kembali ke masa lalu, 1400 tahun yang lalu
hidupkanlah bayangan kota mekkah dengan cadas dan gunung-gunungnya
lalu kita bayangkan sosok paling bengis kepada dakwah, paling besar pertentangannya, paling besar usahanya untuk memadamkan cahaya ini. Ya Amr bin Hisyam namanya atau biasa kita kenal dengan nama abu Jahl
terhadap orang yang seperti itu, ternyata Rasulullah tidak penah meninggalkannya dalam dakwah.
Disebutkan dirinya dalam do’a Rasulullah yang mulia “ya Allah, kuatkanlah islam ini dengan masuknya salah satu dari dua Umarm Umar bin Khattab atau Amr bin Hisyam”
6 tahun rasulullah tiada pernah berhenti berdakwah kepadanya. Sampai perang badrlah yang mengakhiri cerita ini.
Abu jahl mati, dalam keadaan kafir setelah dengan lantang berteriak ” ya Allah sekiranya yang dibawa Muhammad itu benar, hujani saja kami dengan batu”
lalu, apakah kita sudah sekeras Rasulullah mendakwahi setiap objek dakwah kita?
Rasulullah-lah orang pertama yang menjenguk ketika abu jahl sakit, sebagai balasan atas dilemparkannya kotoran dan isi perut unta ke punggung beliau ketika beliau sedang sholat di dekat ka’bah.
sungguh, “merasa” disakiti di jalan dakwah adalah hal yang biasa apatah lagi oleh objek dakwah kita.
Rasulullah pernah dilempar, dicaci, dihina, dikatai pendusta, penyihir dan segala sebutan kasar lainnya.
dan beliau hanya berdoa “ya Allah semoga Engkau menghadirkan keturunan yang menyembah Engkau dari sulbi mereka”
saudaraku…
kemudian, tentang disakiti oleh saudara kita, sesama pejuang dakwah
akhi, ukhti,, sampai detik ini ana masih benar-benar percaya
yang menyatukan hati-hati kita, hanyalah Allah!!
yang membuat kita saling mencintai satu sama lain, hanyalah Allah!!
yang menumbuhkan prasangka baik,hanyalah Allah!!
yang masih mengizinkan kita untuk terus menapaki jalan juang ini, hanyalah Allah!!
sungguh sangat mudah bagi Allah, mengganti kita dengan kaum yang lebih baik, yang lebih cerdas, yang lebih kuat, yang lebih sholeh, yang lebih berilmu daripada kita. Sungguh sangat mudah hal itu bagi Allah…
akan tetapi tidakkah kita akan mengambil pelajaran dari bani Israil?, kaum yang paling banyak diceritakan di dalam Al-Quran.
ketika Allah memberikan beban sejarah kepada mereka, dengan sebutan umat terbaik. Akan tetapi mereka kemudian mengingkari peran sejarahnya. Mereka mengingkari perintah-perintah Allah yang ditujukan kepada mereka, membunuh para nabi, dan menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah. Sehingga mereka menjadi kaum yang dilaknat oleh Allah. Sampai detik ini.
Kemudian, Allah memenuhi janjiNya. Diturunkanlah umat terbaik dalam sejarah umat manusia. Generasi terbaik yang pernah disaksikan sejarah. Bersih akidahnya, jujur lisannya, santun akhlaknya. Generasi pertama umat ini.
Akan tetapi apakah mereka bersih dari perselisihan? Apakah mereka adalah sekumpulan malaikat yang sama sekali bersih dari prasangka, bebas dari ghibah, bebas dari segala aspek kemanusiaan yang melekat pada diri mereka??
ternyata tidak saudaraku. Bilal dan Abdurrahman bin Auf pernah bertengkar, Ali bin Abi Thalib dan Thalhah pernah berseberangan pasukan dalam perang unta, dan bahkan seorang Umar pernah bertentangan dengan Khalid bin Walid. Lalu apa yang mereka kedepankan ketika sedang berselisih paham ?
Ajaran agama yang mulia ini mengajarkan bahwa dalam kondisi apapun IMAN lah yang harus dikedepankan. Sekali lagi IMAN. bukan yang lain. Iman yang melahirkan prasangka baik. Maka menangislah thalhah, ketika ia harus berhadapan dengan ali. Teringat saat mereka berdua beriringan mendampingi Rasulullah. Lalu mengapa mereka sekarang harus berhadapan dalam dua pasukan yang berbeda?. Maka legowolah Khalid ketika Umar mencopotnya dari jabatan panglima, dan mengedepankan baik sangka kepadanya. “Aku berperang bukan karena Umar, tapi karena Tuhannya umar”. Maka menangislah Umar, ketika ia tahu bahwa Khalid sudah meninggal dan berkata “tidakkah ada perempuan arab yang bisa melahirkan khalid bin walid?”. Ya, itulah bahasa iman.
sulit??
ya memang, jalan ini memang tidak akan pernah mudah. Sisi-sisi ke”manusia”an akan selalu bertempur dengan sisi-sisi ilahiyah. Dan keduanya akan saling bertempur.. Hingga kita berharap, sisi iman kita akan selalu memenangkan pertempuran dengan sisi kemanusiaanya. Persis seperti bunda Hajar yang ketika ia bertanya kepada suami yang dikasihinya “apakah ini perintah Allah?” dan mencukupkan hatinya dengan “Jika ini perintah Allah, maka sungguh Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan kami”
di jalan ini, baik sangka haruslah menjadi keharusan. Dan ketika ada sedikit gesekan antara kita dengan saudara kita, maka yang pertama kali harus diperiksa adalah, kondisi iman kita. Karena tidak mungkin tidak bertemu dua hati yang menuju satu titik penghambaan padaNya.
