Kasihan ia yang miskin keajabaian. Keajaiban dimatanya hanyalah merupa wujud yang tak lazim dan spektakuler. Kebal senjata tajam dan peluru, mampu minum bensin dan makan tanah, tidak mampu dibakar, mampu memecahkan benda-benda keras dengan kepala, ya kejabaiban baginya hanya merupa hal yang demikian. Hatinya penuh prasangka bahwa Allah terlalu miskin keajaiban. Padahal, apa yang kurang dari keajaiban penciptaan!? Pada sebuah klorofil yang menghadirkan kehidupan, pada siklus hidrologi yang menumbuhkan kehidupan, pada segala seluk beluk alam raya yang sampai sekarang terus saja melahirkan keajaiban baru. Hati siapa yang tidak tertakjub ketika ia memahami fungsi tubuh manusia yang sangat kompleks. Pada otak yang mampu merekam berjuta informasi, menganalisisnya, dan melahirkan kesimpulan-kesimpulan baru. Pada sistem pertahanan tubuh yang lebih canggih dari segala sistem pertahanan yang pernah dibuat.
Dan pada akhirnya!? ia tak mau tertunduk!! hatinya bebal, hatinya kebal.
Ia kemudian mencari keajaiban-keajaiban lain sesuai prasangkanya. Ditempuhnya segala macam cara agar keajabaian itu menghampirinya. Sayangnya, sering dalam perjalanan itu, ia terseok pada lumpur hitam kemusyrikan. Dukun ia datangi, ritual-ritual aneh ia lakukan, semua atas nama “keajaiban”. Huff, sungguh tersesatlah orang yang demikian. Dan sungguh tempat kembalinya adalah seburuk-buruknya tempat kembali.
“ Dan sesungguhnya Kami jadikan isi Neraka Jahannam kebanyakan jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (al-A’raf; 179)
lalu, beranjak kemana kita setelah ini!?
Mari kita berbicara tentang seni. Sengaja saya mulai tulisan ini dengan “keajaiban” karena analoginya agak-agak mirip. Sungguh kasihan mereka yang menganggap bahwa seni adalah seni yang mengeksploitasi. Seni yang rancu antara nafsu mereka dengan makhluk yang mereka sebut sebagai “kebebasan berekspresi”. Hatinya tumpul memahami keindahan mahakarya sang Pencipta. Jiwanya tidak terusik keindahan lingkungan, keindahan jiwa manusia dan beribu keindahan alam raya. Jiwanya takluk pada nafsunya dan pada akhirnya menuhankannya.
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (al-Jatsiyah; 170)
ya, mengapa kita selalu tidak bisa mengambil pelajaran!?