01 Februari 2012

Steve Jobs Pendiri Apple Terinspirasi Hadist Nabi saw

Tidak, saya tidak akan menerjemahkan seluruh isi pidato Steve Jobs di Stanford. Lagi pula, kalau diterjemahkan seluruhnya, tidak semua isinya bisa tersampaikan dengan baik dalam bahasa Indonesia.

Judulnya Stay Hungry, Stay Foolish (Tetaplah Lapar, Tetaplah Bodoh). Google saja, pasti ketemu pidato lengkapnya. Saya hanya ingin mengutip beberapa poin yang menurut saya paling keren dari pidato itu.

Pertama, bahwa hal-hal terkecil dalam hidup ini bisa menentukan jalan besar kita di masa mendatang. Drop out dari Reed College, Jobs justru mengambil kelas-kelas kaligrafi. Dari situlah Jobs mendapat inspirasi untuk menciptakan font-font indah dan sederhana pada produk-produk Apple.

“Seandainya saya tidak pernah ikut kelas (kaligrafi) itu, Mac mungkin tidak akan pernah punya banyak typefaces atau font yang proporsional. Dan, karena Windows hanyalah mengkopi Mac, kemungkinan tidak ada komputer yang memiliknya. Andai saya tidak pernah drop out, saya mungkin tak pernah mengambil kelas kaligrafi, dan komputer mungkin tak akan memiliki huruf-huruf indah itu,” begitu kata Jobs.

Yang paling bikin merinding adalah ketika Jobs bicara soal kematian.

“Ketika saya masih 17 tahun, saya membaca kutipan seperti ini: Kalau kita hidup seolah-olah setiap hari adalah hari terakhir, maka suatu hari kita akan benar.”

“Setiap pagi saya selalu melihat cermin dan bertanya pada diri sendiri: Kalau hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, apakah saya ingin melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini? Ketika jawabannya adalah “Tidak” terlalu sering, maka saya tahu saya harus berubah.”

Yang bercetak tebal itu hampir mirip dengan Sabda Nabi saw :

"Bekerjalah kamu seakan-akan hidup seribu tahun lagi, beribadahlah kamu seakan-akan mati besok pagi"

Begitulah Islam telah mengajarkan, untuk menjadi orang besar dan sukses.

(Sumber : kaskus)



 
;