
Tak ada yang beda dengan suasana kampus ini sejuk, damai, Mahasiswanya hangat hangat semua, Ya aku merasa tentram berdampingan dengan teman2 sekelas, beraktivitas dengan teman aktivis, bercengkrama dengan teman seperjuangan. Sekali lagi aku bangga dengan Kampus ini. Walau pun kata orang Kampus ini seperti Diskotik (Di Sisi Kota Saeutik) dan Mewah ( Mepet Ka Sawah). Secara geografis Kampus ini teletak di tanah tempat dilahirkannya Kodam Siliwangi. Kampus ini terletak di di Wilayah Priangan Timur di Tanah Sukapura yang Resik. Kampus ini Hijau akan Cat dan hijau akan suasana Alam Kota Tasikmalaya yang usianya masih sangat muda namun kaya akan prestasi dan mimpi besar untuk memajukan Indonesia. Kampus ku terletak di antara berjuta kultur masyarak yang homogen dan kaya akan perbedaan, namun tetap “gemah ripah repeh rapih loh jinawi”
Aku terhenyak dalam mimpiku, terbangun ketika aku sampai di sudut pintu Kampus Perjuangan ini, Wah kaget aku dilihatnya dengan berbagai realita dan kondisi yang begitu menyedot perhatian adrenalin. Aku tak sanggup menyebutkan satu persatu permasalahn di kampus ini, rasanya membuka Aib tempat ku ini. Namun apalah artinya seorang Mahasiswa biasa kalau tak bisa mengatakan yang putih itu putih dan yang hitam itu hitam tentunya dengan cara yang elegan dan mengedepankan berbaik sangka.
Sungguh permasalah Kampus ini yang dirasakan ketika masuk ke Kampus ini begitu terasa, entah karena aku tak biasa atau aku yang kurang kan ilmu, Namun entah kenapa juga hati kecil ini selalu berkata inilah realita sebenaranya yang harus diselesaikan bukan menyalahkan keadaan. Aku sebutkan salah satu tentang Moralitas mahasiswa karena itu yang paling urgen dan menjadi pokok permasalahan nya bukan pada letak siapa dan seperti apa merubahnya.
Pukul 11:47 waktu menunjukan di jam tangan ku, aku berangkat melewati deretan anak tangga di sebuah gedung Mandala, kaget aku kaget melihat segerombolan pemuda berkumpul meminum minuman keras bau alkoholnya aku rasakan padahal semua orang melihat hal itu, ya melihat nya dengan mata kepala sendiri. Satu orang pun tak da yang melapor ke keamanan kampus, Akhirnya kau lapor ternyata salah seorang kemanan kampus bilng “ Yang Penting tidak membuat ribut”.
Rasakanlah realita itu…..!
Jum’at, waktu itu ketika ada pelaksanaan P2SPT tahun 2009 salah seorang panitia bilang kepadaku “Kang kumaha masalah pembagian uang itu, jadikan buat kita kita ya sbg uang lelah lah”. Aku hanya tersenyum saja tak menjawab apapun. “Ini uang Mahasisiwa, tak layak dimasukan di pesak pribadi” dalam hati ku berkata.
Rasakan sekali lagi….!
Di sebuah demontrasi ke Rektorat di G.Mandala tentang kebijakan lembaga. “Turunkan Rektor, kalau tidak Kampus ini di kacaukan” bayangkan masalah kecil disampaikan dgn cara seperti itu….! Ini cerita asli , waktu itu ada berbagai kegiatan musyawarah mahasiswa baik di tingkat Universitas, Fakultas, dan Jurusan. Inti dari Musyawarah adalah Mengevaluasi, Mengkonsep Program, dan melahirkan Pemimpin. Seperti biasa agenda persidangan pun dimulai dengan tertib, Namun ketika di tengah perjalanan suasana jadi tak menentu. Agenda jadi ngelantur, pemabahasan jadi tak menentu, LPJ sbg fungsi evaluasi malah jadi fungsi menyalahkan, Program kerja kedepan asal jadi tak bervisi dan misi apalagi analisi SWOT di abaikan, Yang paling parah adalah ketika waktu pemilihan calon ketua. Jujur aku katakan tak ada lagi kejujuran, rasa keadilan diabaikan, hanya kecurangan dan saling menjatuhkan satu sama lain. Itu semua dilakukan demi meraih kursi, mendapatkan pengakuan.
Aku juga sadar berbagai kepentingan dan pengaruh politik berperan besar dan selalu bermain besar di belaknganya. Aku anggap wajar dan biasa biasa aja. Namun yang salahnya adalah ketika Nilai Kejujuran dan rasa keadilan diinjak dan disembunyikan tertutupi oleh kabut kekuasaan. Di salah satu jurusan waktu itu ku katakana “Ayo, teman teman semua pilihlah Pemimpin sesuai dgn hati Kecil jangan terpengaruh oleh sms masuk dan bujukan dari siapapun”. Spontan waktu itu kondisi jadi tambah kacau antara yg Pro dgn hati kecilnya dan yg Pro dgn politiknya. Ada yang baku hantam fisik, lempar & pukul meja sampai rusak. “ sekali lagi akau katakan kalau seperti ini cara memilihnya ayo kita perbaiki sistem yaitu Memilih langsung, One Men One Vote. Ini solusi terbaik tuk merasakan keadilan dan kejujuran saat ini.”
Rasakanlah realita ini sekali lagi…..!
Sebenarnya masih banyak realita yang begitu…..(Tak Sanggup Mengatakan nya) Ya inilah realita. Jika kita buka mata kecil kita sejenak, empati kita luapkan, rasa cinta kita pada Kampus kita ini di ungkapkan sekali lagi diungkapkan…… dan lihatlah, dengarkanlah, rasakanlah hingga menyentuh senar senar di relung hati kecil kita yang paling dalam. Oh luar biasa mengkagetkan jiwa…. Benar realita ini semakin penasaran membuat bulu punduk ku terbangun. Waktu itu malam saya berangkat ke kampus sekitar pukul Sembilan aku dengar dari seorang teman bahwa di belakang ada keributan yang di picu oleh masalah ini (Mohon maaf kurang baik di tulisakan) akhir nya aku punya kesimpulan ternyata benar di waktu siang kampus ini ramai oleh imagenasi & krestivitas ilmiah keilmuan namun di waktu malam…..
Akhirnya apa yang harus kita katakan lagi, Apa ?
Sekarang kita lebih baik menyalakna lilin dari pada terus mencela kegelapan ini. Kita hadir dan dibesarkan di kampus ini dan kita juga mempunyai kewajiban membalas jasa baik kampus ini yang telah membesarkan kita dan mendewasakan kita selam ini. Satu hal “Perbaiki kampus ini” itulah yang balas jasa baik kita.
(Sekre DEM, Juni 2010)
Aku terhenyak dalam mimpiku, terbangun ketika aku sampai di sudut pintu Kampus Perjuangan ini, Wah kaget aku dilihatnya dengan berbagai realita dan kondisi yang begitu menyedot perhatian adrenalin. Aku tak sanggup menyebutkan satu persatu permasalahn di kampus ini, rasanya membuka Aib tempat ku ini. Namun apalah artinya seorang Mahasiswa biasa kalau tak bisa mengatakan yang putih itu putih dan yang hitam itu hitam tentunya dengan cara yang elegan dan mengedepankan berbaik sangka.
Sungguh permasalah Kampus ini yang dirasakan ketika masuk ke Kampus ini begitu terasa, entah karena aku tak biasa atau aku yang kurang kan ilmu, Namun entah kenapa juga hati kecil ini selalu berkata inilah realita sebenaranya yang harus diselesaikan bukan menyalahkan keadaan. Aku sebutkan salah satu tentang Moralitas mahasiswa karena itu yang paling urgen dan menjadi pokok permasalahan nya bukan pada letak siapa dan seperti apa merubahnya.
Pukul 11:47 waktu menunjukan di jam tangan ku, aku berangkat melewati deretan anak tangga di sebuah gedung Mandala, kaget aku kaget melihat segerombolan pemuda berkumpul meminum minuman keras bau alkoholnya aku rasakan padahal semua orang melihat hal itu, ya melihat nya dengan mata kepala sendiri. Satu orang pun tak da yang melapor ke keamanan kampus, Akhirnya kau lapor ternyata salah seorang kemanan kampus bilng “ Yang Penting tidak membuat ribut”.
Rasakanlah realita itu…..!
Jum’at, waktu itu ketika ada pelaksanaan P2SPT tahun 2009 salah seorang panitia bilang kepadaku “Kang kumaha masalah pembagian uang itu, jadikan buat kita kita ya sbg uang lelah lah”. Aku hanya tersenyum saja tak menjawab apapun. “Ini uang Mahasisiwa, tak layak dimasukan di pesak pribadi” dalam hati ku berkata.
Rasakan sekali lagi….!
Di sebuah demontrasi ke Rektorat di G.Mandala tentang kebijakan lembaga. “Turunkan Rektor, kalau tidak Kampus ini di kacaukan” bayangkan masalah kecil disampaikan dgn cara seperti itu….! Ini cerita asli , waktu itu ada berbagai kegiatan musyawarah mahasiswa baik di tingkat Universitas, Fakultas, dan Jurusan. Inti dari Musyawarah adalah Mengevaluasi, Mengkonsep Program, dan melahirkan Pemimpin. Seperti biasa agenda persidangan pun dimulai dengan tertib, Namun ketika di tengah perjalanan suasana jadi tak menentu. Agenda jadi ngelantur, pemabahasan jadi tak menentu, LPJ sbg fungsi evaluasi malah jadi fungsi menyalahkan, Program kerja kedepan asal jadi tak bervisi dan misi apalagi analisi SWOT di abaikan, Yang paling parah adalah ketika waktu pemilihan calon ketua. Jujur aku katakan tak ada lagi kejujuran, rasa keadilan diabaikan, hanya kecurangan dan saling menjatuhkan satu sama lain. Itu semua dilakukan demi meraih kursi, mendapatkan pengakuan.
Aku juga sadar berbagai kepentingan dan pengaruh politik berperan besar dan selalu bermain besar di belaknganya. Aku anggap wajar dan biasa biasa aja. Namun yang salahnya adalah ketika Nilai Kejujuran dan rasa keadilan diinjak dan disembunyikan tertutupi oleh kabut kekuasaan. Di salah satu jurusan waktu itu ku katakana “Ayo, teman teman semua pilihlah Pemimpin sesuai dgn hati Kecil jangan terpengaruh oleh sms masuk dan bujukan dari siapapun”. Spontan waktu itu kondisi jadi tambah kacau antara yg Pro dgn hati kecilnya dan yg Pro dgn politiknya. Ada yang baku hantam fisik, lempar & pukul meja sampai rusak. “ sekali lagi akau katakan kalau seperti ini cara memilihnya ayo kita perbaiki sistem yaitu Memilih langsung, One Men One Vote. Ini solusi terbaik tuk merasakan keadilan dan kejujuran saat ini.”
Rasakanlah realita ini sekali lagi…..!
Sebenarnya masih banyak realita yang begitu…..(Tak Sanggup Mengatakan nya) Ya inilah realita. Jika kita buka mata kecil kita sejenak, empati kita luapkan, rasa cinta kita pada Kampus kita ini di ungkapkan sekali lagi diungkapkan…… dan lihatlah, dengarkanlah, rasakanlah hingga menyentuh senar senar di relung hati kecil kita yang paling dalam. Oh luar biasa mengkagetkan jiwa…. Benar realita ini semakin penasaran membuat bulu punduk ku terbangun. Waktu itu malam saya berangkat ke kampus sekitar pukul Sembilan aku dengar dari seorang teman bahwa di belakang ada keributan yang di picu oleh masalah ini (Mohon maaf kurang baik di tulisakan) akhir nya aku punya kesimpulan ternyata benar di waktu siang kampus ini ramai oleh imagenasi & krestivitas ilmiah keilmuan namun di waktu malam…..
Akhirnya apa yang harus kita katakan lagi, Apa ?
Sekarang kita lebih baik menyalakna lilin dari pada terus mencela kegelapan ini. Kita hadir dan dibesarkan di kampus ini dan kita juga mempunyai kewajiban membalas jasa baik kampus ini yang telah membesarkan kita dan mendewasakan kita selam ini. Satu hal “Perbaiki kampus ini” itulah yang balas jasa baik kita.
(Sekre DEM, Juni 2010)
