30 Desember 2010

Memanfaatkan Masa Transisi

Masa tahun pertama kuliah adalah masa transisi yang sensitif. Terdapat banyak kejutan yang akan dialami oleh mahasiswa baru, mulai dari sistem akademik yang sama sekali beda dengan masa sekolah dulu, cara belajar yang harus direvolusi mengikuti sistem akademik perkuliahan, sampai merombak kembali manajemen waktu yang dimiliki semasa sekolah dulu untuk kemudian disesuaikan dengan kondisi perkuliahan yang biasanya berlangsung dari pagi sampai sore.

Masalah akademik, mungkin mahasiswa baru (termasuk saya) perlu banyak belajar kepada senior yang notabene telah memiliki usia lebih lama di kampus dibanding kita, anak kemarin sore di kampus ini. Tapi masa sensitif yang kita miliki itu bukanlah sekedar dalam permasalahan akademik. Seorang mahasiswa baru dalam masa transisi ini adalah seorang yang sedang mencari identitas diri dan begitu labil dan mudah terpengaruh.

Sebagai komunitas yang telah merelakan diri menjadi du’at di jalan-Nya, masa sensitif ini dapat kita manfaatkan dengan cantik. Di sekitar kita, bertebaran kawan-kawan kita yang inner-conciousness atau kesadaran dirinya sedang butuh diisi. Mereka bingung menempatkan perannya di kampus ini.

Oleh karena itu akan sangat mudah sekali terlihat jiwa-jiwa hanif di antara kawan-kawan kita apabila kita cermat mengamati. Mereka biasanya cepat ‘nyambung’ apabila diajak berbicara mengenai keislaman. Apalagi apabila kita sudah memiliki kredit point di mata mereka sebagai seorang yang sedikit faqih mengenai dinul Islam, maka kita akan menjadi sasaran kaduan dari mereka mengenai masalah-masalah keislaman aktual yang mereka rasakan. Jiwa-jiwa hanif inilah prioritas dakwah kita.

Orang-orang seperti ini akan terbagi dua: ada yang mau diajak untuk bergabung dalam komunitas Islam legal formal kampus, ada juga yang cenderung menghindar untuk terjebak dalam kesibukan organisasi. Sesuai sasaran dasar da’i, yaitu pengingkaran manusia akan thogut, tak ada alasan bagi kita untuk kecewa atas golongan yang kedua itu. Kita terus saja menyebarkan opini keislaman kepada mereka, dan melayani sejauh mana keinginan mereka untuk menggali wawasan keislaman dari kita. Intinya, dakwah fardiah!

Sebenarnya ada celah positif untuk mengolah semangat mereka lebih baik. Biasanya alasan mereka tak ingin ikut organisasi adalah karena takut akan sibuk dan ‘tak mau capek’. Kalau kita ingin melakukan manuver atas hal ini, bisa saja kita tawarkan kepada mereka mentoring eksklusif tanpa dicover dengan organisasi. Kita bisa mengambil mentor dari Rohis atas persetujuan mereka, dan adakan acara pekanan itu di tempat kos salah seorang dari mereka yang masih memiliki semangat keislaman itu. Mentoring inilah (atau pengajian kelas) yang kemudian kita harapkan merubah paradigma mereka tentang hidup sehingga mereka mau untuk berlelah-lelah bersama kita dalam barisan da’wah ini.

Hati-hati, apabila semangat ini tidak keburu diolah dengan baik oleh kita, maka biasanya bara itu akan meredup dan padam setelah tahun-tahun perkuliahan berikutnya. Takutnya, inner-conciousness mereka terisi oleh hal-hal yang tidak baik yang mereka dapatkan dari buruknya pergaulan. Dan apa jawaban kita kepada Allah swt kelak, apabila kita diminta pertanggung-jawabannya mengenai masalah mereka? Semangat yang ada terbuang percuma dikarenakan tidak pekanya kita terhadap mereka. Karena itu, selagi masih menjadi mahasiswa baru yang memiliki banyak kesempatan, berdakwah fardiah-lah. Sesungguhnya dakwah fardiah itu indah dan memiliki banyak seni manuvernya, dan paling efektif untuk mahasiswa tahun awal.

 
;