30 Desember 2010

ADK Ketika Main Catur

Yang kita lihat sekarang adalah di depan papan catur, perpolitikan kampus yang sedang bermain. Ada yg jadi anak, benteng, ada yanga jadi pncung.. semua berjalan, bergerak, bahakan berlari sampai saling tubruk menubruk satu lama lain, pertanyaan nya apakah mereka bergerak sendiri ? tentu jawabana nya tidak... semua terkonsep, di design dan di rapihkan oleh sang pemain. Pertanyaan kedua Lalu dengan cara apa mereka bermain ? apakah permainan tersebut lama atau singkat atau juga ada kecurangan ?. Pertanyaan ketiga siapakah yang dikorbankan demi sebuah kemenangan ?. Terakhir apakah itu yang dinamakan Politik dalam pemahaman Islam, tarbiyah yang telah kita jalani dan merasakan sejuknya air yang mebasahi hati dan muka disepertiga malam...sejuk, sejuk, sejuk... ?
Saya yakin semua punya jawaban masing masing, tapi kita disini di perpolitikan kampus bukan menuntut mana yang benar dan mana yang salah, karena yang harus kita fahami politik tidak seperti dalam teori, tapi kita fahami politik adalah sarana untuk kebaikan dan perbaikan.... jika yang mengatakan politk adalah cara meraih keuasaan, kita sepakat. Jika yang mengatakan politik itu bersih itu wajib kita sepakati. Disinilah letak perbedaan nya. Poltik kita harus bersih tulus untuk sebuah kebaikan dan perbaikan.
Sekarang si pion yang kecil sedang bermain, lincah gesit tak terbaca oleh lawan, lalu apakah si pion tersebut akan kalah ?... pasti kalah, karena yang harus menang hanya Raja. Kita belajar dari si pion... bagaimana seorang kader ADK bermain gesit, lincah tak terbaca oleh saingan politk segala strategi di berbagai kesempatan harus dimanfaatkan, untuk sebuah kebaikan dan perbaikan... ada yang berjuang di HIMA Jurusan, BEM & BLM Fakultas, DEM & DLM Universitas, di ORMAWA lain nya semua gerak, fikiran, bahkan mimpi ketika tidur pun demi Dakwah Kampus ini... namun seringkali kekalahan itu bukan dari lawan, tapi dari kita sendiri. Menggigil jika seorang tokoh Mahasiswa, aktivis dikatakanlah di DO, karena sering bolos, atau pacaran...atau apapun yang menghancurkan citra dirinya sbg ADK.... gemuruh tepuk tangan sangat bigitu dinantikan, dielu elukan karena telah merasa menjadi seorang aktivis di panggung dakwah kampus. Dia sekarang bicaranya dalam hati bukan lagi akhi/ukhti tapi di ekspresikan dengan begitu jelasnya di hadapan banyak orang dengan sikap bukan seorang Akhi/ Ukhti lagi, karena sudah menjadi trend Mihwah Siyasi segalaya di halal kan, segalanya dibolehkan untuk sebuah strategi kemengan “Futtuh Kampus”, lalu apakah kau ingat Tarbiyah yang telah membesarkan mu dulu dari tidak tahu kata Akhi/Ukhti menjadi tahu bahkan sikap nya telah berubah menjadi seorang Ikhwan dan Akhwat.. .
 
;