04 Maret 2010

Makna Usia 21 Tahun

Kata yang aku ucapkan kali ini "Alhamdulillah", 4 Maret 1989 diriku ini dilahirkan....detik ini bertepatan dengan 4 Maret 2009 usiaku genap 21 tahun, Ya pengalaman hudup di muka bumi ini sangat banyak. Islam lah yang aku banggakan selama hidup ini. Aku belajar tentang Syahadat sampai etika ketika bertepatan dengan hari kelahiran yang aku enak menyebutnya Milad. Bagiku tidak ada "ulang tahun" yang ada "Terus Tahun" aku tidak suka kata-kata mengeluh,lemas, loyo,& lunglay Karena itu adalah musuh besar bagiku. Aku ingin berbagi dengan saudara-saudara semunya, semoga bermanfaat coretan ini......
Manusia mempunyai misi kekhalifahan dan diberi umur untuk memakmurkan bumi. Kata umur mengandung arti misi, tugas. Orang hidup harus menggunakan umurnya sebagai tugas untuk menciptakan kemakmuran. Kalau tidak, berarti mengkhianati amanat, mengkhianati umur karena umur harus makmur. Kemakmuran dalam bentuk spiritual dan material. Ada orang yang makmur dunianya tapi pailit akhiratnya. Juga ada manusia yang pailit dunianya tapi makmur spiritualnya. Ini semuanya tidak benar.

Al Qur'an mengajarkan dalam berdo'a supaya mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Tapi barangkali makna kebaikan di dunia dan di akhirat, bukan akhirat berarti Masjid dan ditoko adalah dunia. Artinya keduanya berhimpitan. Apa yang dilakukan di dunia hendaknya sekaligus mempunyai makna akhirat. Yang dimaksudkan mempunyai makna akhirat juga sekaligus wujud dunia. Makanya, orang bekerja ya bekerja tapi juga mempunyai makna ukhrawi. Jadi bukan dua sayap; sayap yang satu dunia dan satu sayap lainnya akhirat. Harus kedua-duanya, dunia ya akhirat, begitu pula ya dunia.


SUMBER HIDUP ADALAH GERAK

Sebab kalau dipahami dua sayap, maka di dunia akan seenaknya berbuat dosa, karena nanti akan bertobat di Masjid atau Umrah untuk menghapuskan dosa, yang kemudian berbuat dosa kembali. Karena umur itu memakmurkan, maka harus makmur dunia dan makmur akhirat.

Umrah atau umur mempunyai dua spirit ; datang ke Baitullah untuk memakmurkannya dan makna lainnya yaitu orang berjalan.

Dalam Islam yang dinamakan gerak sangat luar biasa, seperti Thawaf, Sa'I, Sholat, dsb, semua dilakukan dengan gerakan-gerakan. Jadi umur yaitu orang yang bergerak, tidak boleh diam. Sholatpun dalam Islam gerak. Gerak menunjukkan dimensi fisik. Gerak badannya tapi hatinya Istiqomah hanya kepada Allah. Inilah keseimbangan yang menjadi satu. Bukan hanya merenung dan diam, bermeditasi mengosongkan diri. Hal seperti ini juga ada, misalnya I'tikaf. Tapi kalau dilihat dalam Islam ibadah terdiri dari gerakan-gerakan ; Thawaf, sholat bahkan puasa. Ibadah puasa merupakan gerak perubahan irama fisik; hidup siang menjadi malam dan malam mejadi siang, jam makan menjadi tidak makan dan jam tidur menjadi jam makan. Itulah luar biasa dinamis.

Makanya dalam istilah agama dengan shirat; jalan, Thawaf; memutar. Karena itu konsep umur dalam Islam artinya orang harus bekerja, produktif menciptakan kemakmuran, baik kemakmuran spiritual, intelektual, maupun material. Rasulullah dan para sahabatnya juga bergerak dalam berjuang di jalan Allah. Maka orang dikatakan berumur jika umurnya produktif.

Orang Islam sebagai peziarah. Para Sufi berkata bahwa manusia hidup di dunia sebagai peziarah tapi lupa dengan petanya. Imam al Ghazali memberikan ilustrasi bahwa suatu hari ada serombongan manusia yang hendak menunaikan ibadah Haji. Mereka mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan dalam perjalanan. Tapi ketika hendak berangkat melihat temannya memakai pakaian dengan gagah dan Untanya dihias dengan indah, mereka iri melihat itu. Akhirnya mereka sibuk untuk berlomba menghias Unta dan memakai pakaian yang indah, mereka memutar-mutar disitu saja. Dan lupa dengan tujuan karena asyik memperindah sarananya. Imam Al Ghazali mengatakan bahwa banyak manusia yang lupa akan tujuan akhir karena disibukkan oleh persiapan peralatannya. Padahal alat digunakan untuk mendekatkan tujuan.

Kalau harus berpisah dan tidak siap, nanti akan sakit sekali rasanya. Ibarat anak kecil jika disapih dari ibunya. Makanya alam disebut Ibu Pertiwi, artinya manusia mempunyai keterkaitan yang erat sekali dengan ibu, tempat lahir. Jika tidak siap untuk dipisahkan dari Ibu Pertiwi, Tanah Air maka akan terasa sakit sekali.

Produk dari orang berumur yaitu " Umrah " artinya peradaban, Ilmu Pengetahuan. Universitas merupakan warisan " Umrah " dari generasi sebelumnya. Jadi generasi sekarang menerima warisan tapi juga harus meninggalkan warisan yang lebih baik. Secara fisik peradaban akan melahirkan Imarah, bangunan.


MACAM-MACAM UMUR

Umur ada tiga macam; Pertama, umur yang bersifat Kronologis; dihitung berapa banyak kalender dihabiskan. Umur yang bersifat Kronologis tidak mengenal kata surut, progres terus. Tidak akan kembali waktu yang sudah berlalu. Ada sebuah hadist yang maknanya kira-kira, setiap Matahari terbit berkata : " Hai anak Adam, aku datang menemui hari ini dan hanya sampai sore nanti, kita berpisah tidak akan berjumpa lagi kecuali nanti dihari kiamat. Karena itu manfaatkanlah kehadiranku. Kalau tidak, nanti saya akan menanya kamu di akhirat bagaimana engkau menyambut kedatanganku ".

Setiap hari matahari berkata seperti itu. Maka jawaban orang Islam ketika bangun tidur, " Ya Allah, Alhamdullillah matahari Engkau datang atas perintah Allah menemui kami. Aku akan gunakan hari ini untuk beramal shaleh dan beriman . dan begitu malam tiba berkata " Hai anak Adam aku sekarang malam datang. Aku akan ingatkan kamu tadi melakukan apa, dan sekarang aku datang untuk mati memelukmu, untuk tidur. Siapa tahu engkau mati terus atau belum tentu bisa bangun lagi ".

Manusia sadar, oleh karena itu shalat malam, Isya. Dan sebelum tidur lapor kepada Allah : "Ya Allah terimalah amalku hari ini, ampunilah dosa-dosaku. Ya Allah kiranya engkau perpanjang umurku besok semoga ketika aku bangun Iman dan Islam masih tetap ada pada diriku. Dan kalau Engkau mengambil diriku, karena memang aku milik-Mu". Umur yang kronologis berjalan terus, tidak mengenal kaya, miskin, pintar ataupun bodoh.

Kedua, umur berdimensi intelektual psikologis. Yaitu bisa saja seseorang secara kronologis sudah tua, tapi pendidikannya rendah, tidak berkembang emosinya, maka seperti anak-anak. Sehingga ada ungkapan " Nggak pantas sudah tua kok kayak anak-anak ". Jadi sudah tua secara kronologis, tapi mentalitasnya anak-anak. Atau bahkan ada yang sebaliknya.

Umur yang kedua ini dikembangkan melalui pendidikan, training dan sebagainya. Sekarang banyak dikembangkan metode pengembangan umur psikologis, misalnya untuk melatih emosi diadakan training. Inilah salah satu metode mendewasakan umur secara intelektual-psikologis.

Ketiga : umur psikologis spiritual. Umur secara kronologis sudah tua juga secara intelektual pintar, apakah secara spiritual juga ikut berkembang.
 
;