Lembaga dakwah sekolah merupakan sebuah tempat perencanaan peradaban besar. Seperti yang ditulis dalam sebuah buku, bahwa rekayasa lembaga dakwah kampus(dalam hal ini, kita samakan dengan sebuah sekolah).. bukan hanya sebuah rekayasa dalam sebuah dunia kecil yang biasa kita sebut komunitas.. Namun, rekayasa dakwah tersebut merupakan sebuah rekayasa besar untuk memnciptakan suatu kesatuan sosial terbesar yang memiliki suatu tatanan sosial yang ideal, yaitu Islam. Dalam kata lain, pembentukan sebuah Khilafah Islamiyah. Lembaga dakwah sekolah merupakan tempat penggabungan antara pembelajaran dan juga dakwah. Artinya apa?
Lembaga Dakwah Sekolah sebagai media pembelajaran, artinya setiap detik yang kita habiskan dalam lembaga tersebut harus selalu bernilai dalam hidup kita. Dakwah di lingkungan sekolah adalah sebuah latihan yang benar-benar mendasar.. Bahkan lebih penting dari sebuah pelatihan.
Lembaga Dakwah Sekolah sebagai media dakwah yang saarat akan nilai-nilai perjuangan. Memang pada dasarnya tujuan dibentuknya sebuah lembaga dakwah sekolah untuk menyebarkan fikrah dan nilai-nilai Islam di lingkungan sekolah. Ya, perjuangan untuk meluruskan keadaan yang telah menyimpang agar kembali ke keadaan kondusif dengan sebuah nilai-nilai Islam hidup di dalamnya.
Namun, kini.. fungsi lembaga dakwah telah mengalami miskonsepsi dalam perspektif dakwahnya. Fungsi LDS yang dahulu untuk menegakkan nilai-nilai Islam di sekolah kini mulai pudar dan berganti menjadi hanya sebuah lembaga formal yang diakui oleh sekolah untuk mengadakan kegiatan keagamaan yang dperintahkan oleh sekolah.
Kondisi ini diperparah dengan penurunan kualitas generasi muda beberapa tahun terakhir yang memaksa perubahan yang revolusioner dalam semua aspek lembaga tersebut.
Aspek yang pertama adalah kedekatan kita kepada Allah swt. harus diingat, bahwa perjuangan yang kita lakukan adalah perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah.. Jadi jangan sampai kita melupakan eksistensi Allah dalam perjuangan kita. Allah telah berfirman dalam surat Ali-Imran:159, jika kita telah berazzam tentang seusatu hal maka kita harus bertawakkal kepada Allah.. ya, itulah konsep dasar dari sebuah lembaga dakwah.
Aspek kedua yang harus kita perbaharui yaitu paradigma kita tentang dakwah itu sendiri.. Dari semua kasus yang terjadi.. Kebanyakan dari kita berdakwah dengan sebuah tujuan yang dapat dikatakan cukup ‘miss’ dari tujuan asal. Mayoritas dari kita berdakwah untuk mengajak sang objek dakwah untuk masuk ke dalam lembaga dakwah kita.. Hal tersebut merupakan kesalahan dasar!! Perlu diingat oleh semua kader bahwa kita berdakwah tujuan akhirnya adalah Allah dan bagaimana caranya agar sekolah kita memiliki kultur Islam yang bukan hanya waktu MOS, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak perlu mengajak mereka untuk menjadi kader lembaga dakwah.. Yang harus dilakukan adalah mengajak mereka kepada kebenaran, menyadarkan para objek dakwah sehingga pada akhirnya mereka mampu memahami urgensi keislaman dirinya dan urgensi dari dakwah yang kita lakukan kepada sang objek dakwah. Barulah, setelah sampai tahap yang tersebut, kita bisa mengajak untuk berhimpun dalam sebuah barisan dakwah dengan kita..
Aspek ketiga adalah kader-kader dakwah dari lembaga dakwah itu sendiri. Kita sering menafsirkan bahwa kekuatan sebuah organisasi tergantung dari jumlah kadernya.. Jika sebuah lembaga dakwah memiliki kader yang banyak, bisa disimpulkan bahwa lembaga dakwah tersebut kuat dan sebaliknya.. Itu merupakan persepsi yang salah. Banyak sekali argumen yang menentang hal ini, dan kebanyakan berasal dari Al Quran atau As-Sunah(afwan,saya lupa).. Jadi, kekuatan sebuah lembaga dakwah berasal dari kader KUALITAS kader dakwah itu sendiri.. Dan kader yang berkualitas harus berasal dari kaderisasi yang bagus juga.. Tidak ada sejarahnya.. di gurun pasir yang gersang, terdapat sebuah biota hutan hujan yang lebat, begitu juga kelahiran para kader yang hebat.. Yang pasti, untuk mengoptimalkan dakwah dengan menggunakan mobilisasi kader yang efektif tidak perlu banyak orang.. cukup beberapa orang.. Namun, kompetensinya tidak usah diragukan lagi.. Maka para kader kompeten inilah yang nantinya menjadi pilar-pilar penyangga dakwah. Merekalah kader inti yang menjadi pusat pola pergerakan dakwah di sekolah.. kader-kader lain berfungsi apa kalau gitu?? Mereka itulah yang menjadi basis massa kita, merekalah yang menjadi informan dari kejadian yang ada di sekolah. Merekalah yang akan menjalankan kesiswaan dengan menjadi ketua OSIS, MPk, dan ekskul-ekskul. Merekalah yang menjalankan kehidupan underground sekolah.. Bahkan, mereka bisa ditugaskan ke kelompok-kelompok penentang yang akan mengganggu dakwah kita..
Aspek terakhir adalah pandangan kita terhadap keadaan para kader.. Kita sering kecewa karena para kader jarang ngumpul di mesjid.. atau gimana gitu.. Semua hal tersebut sebenarnya bukanlah hal ynag prinsip.. KArena pada dasarnya objek dakwah kita bukan di mesjid, tapi di tempat-tempat di mana nilai-nilai Islam belum menjamah.. Di situlah tempatnya.. Dengan begitu, akan hilang anggapan bahwa kader dakwah itu eksklusif.. Kalau dikit orang di mesjid, ya gak apa2.. asalkan mereka waktu shalat pada shalat semua. Jadi ga masalah, pusat pemerintahan kita kosong asalkan para kader tersebut pergi untuk berdakwah di tempat yang tepat..
itulah.. sekelumit dari idealisme sebuah format gerakan lembaga dakwah sekolah yang ideal dalam kacamata saya sebagai seorang kader.. Silakanm ditambahkan atau diapain.. Semoga bermanfaat..
“Lembaga dakwah sekolah bukanlah tempat remaja-remaja yang sengaja menyibukkan diri untuk mengisi waktu di sela-sela pelajaran, namun ia adalah sebuah keniscayaan, awal dari sebuah kemenangan.. Tempat dimana manusia-manusia model peradaban Islam muncul darinya.”
